Saya masih takut menyebutmu cinta. Mungkin terlalu cepat
bila mengatakan seperti itu. Rasa timbul karena kenyamanan dari keintiman yang
tak nyata. Rasa yang mungkin sesaat atau hanya mampu menikmati semua ilusimu.
Saya masih takut menyebutmu cinta. Padahal rindu di dada
terus saja menjejal kuat, sangat kuat. Mereka menghentak-hentak, menyesakan
peparu. Mereka ingin berada dan bertemu dalam satu pelukan, bukan pelukan semu,
namun pelukan hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, sekali lagi bukan sesaat namun
untuk selamanya.
Saya masih takut menyebutmu cinta. Seakan ingatan kembali terbangun di mana
saya pernah menikmati ilusi namun hilang pada nyatanya. Saya takut, takut
terjadi pada kamu. Saya takut kamu menghilang, sementara rasa cinta yang masih
takut saya sebut ini membesar dan hilang arah.
Saya masih takut menyebutmu cinta. Padahal saat kamu
menghilang beberapa bulan lalu saya sempat mencari kamu dengan bermodal nama
depanmu. Lagi-lagi tidak pernah saya temukan, mesin pencari terhebat pun belum
bisa menemukan kamu yang dahulu bercakap-cakap dengan saya.
Saya masih takut menyebutmu cinta. Sementara sesekali saya
mencoba menyapamu lagi, dan tak pernah ada tanggapan. Sempat kamu membalas
begitu datar. Saya ragu namun tidak pada rasa rindu saya. Sekali lagi saya
coba menyapamu, kali ini berbeda balasannya, hangat. Sangat hangat.
Jika saya masih takut menyebutmu cinta. Padahal saya tahu,
ada yang mungkin sama terjadi padamu. Apa boleh rasa yang saya tahu dari kamu
benar-benar sama dan hanya untuk saya?
Jika saya masih takut menyebutmu cinta. Jika saya masih
takut, menjadi lebih takut kehilanganmu dengan segala angan yang sudah tercipta
sempurna, dengan segala asa yang menjadikannya rasa, dengan rasa ingin yang
terus memelukmu erat, menggenggammu, dan tumbuh dewasa lalu menghadapi senja
bersama.
Jika saya masih takut menyebutmu cinta. Semoga kata-kata
saya tidak berlebihan, semoga kamu pun merasakan yang sama, satu hati, satu
frekuensi, semoga kita cepat dipertemukan.
“Saya ingin bahagia dengan kamu. Sangat ingin berada di sisimu. Menjadi bagian dari kamu.
Karena... kamu lebih dari indah, lebih dari apapun.”
kamu yah.. bisanya bikin raka meleleh :p
ReplyDeletekamu yang buat saya seperti ini, ini hanya sebagian kecil saja. nanti lagi ya :p
ReplyDeleteiya, ditunggu :)
ReplyDelete